Minggu, 15 Januari 2012

HISTORY WALI SONGO

SEKILAS SEJARAH  WALI SONGO
( WALI 9 )

Selayang Pandang
"Walisongo" mempunyai makna “ Wali Sembilan / Sembilan Orang Wali  " Mereka adalah (1) Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) , (2) Raden Rahmatulloh (Sunan Ampel), (3) Raden Ainul Yaqin / Joko Samudro (Sunan Giri (4) Raden Makdum Ibrohim (Sunan Bonang), (5) Raden Qosim (Sunan Drajad) (6) Raden Syahid (Sunan Kalijaga), (7) Raden Ja’far Shodiq (Sunan Kudus), (8) Raden Said (Sunan Muria), dan Raden Syarif Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati) Walaupun mereka tidak hidup dalam satu masa , akan tetapi mereka memiliki kekerabatan atau hubungan yang erat diantaranya sebagai orangtua, anak  cucu atau guru dengan santri ( murid ).
Kalau di paparkan secara singkat hubungan mereka adalah sebagai berikut :

Maulana Malik Ibrahim,
mempunyai anak yaitu  Sunan Ampel. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel mempunyai anak yaitu   Sunan Bonang dan Sunan Drajad. Sunan Kalijaga adalah teman dan murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga.Sedangkan Sunan Gunung Jati adalah sahabat para sunan.


“Wali Songo”  hidup pada masa  sekitar awal abad 15 sampai dengan pertengahan abad 16, mereka tinggal dan berda’wah di pantai utara Pulau Jawa yaitu di wilayah  Gresik, Surabaya, Lamongan, Tuban ,( Jawa Timur )  Demak Kudus, Muria ( Jawa Tengah), dan Cirebon ( Jawa Barat ). Mereka adalah para Cendekiawan  yang banyak melakukan perubahan . Mereka banyak memperkenalkan berbagai bentuk baru dari peradaban, di antaranya kesehatan, pertanian, perdagangan, budaya dan seni,  sampai kepada tata pemerintahan.

Berikut ini riwayat singkat  dari masing – masing para wali songo :

1.  MAULANA MALIK IBRAHIM ( Sunan Gresik )

Beliau adalah jajaran wali songo yang dianggap yang pertama kali menyebarkan agama islam ditanah jawa. Lahir di Campa ( Kamboja ) pada pertengahan abad XIII, sejak kecil beliau sudah mendapatkan didikan agama dari ayahnya yaitu BAROKAT ZAINUL ALAM. Demikian juga nenek beliau adalah ulama dan perintis islam dari negeri arab kemudian ke timur ke negeri – negeri Pakistan, India , Malaysia dan Kamboja dan menetap disana adalah JAMALUDIN AL-AKBAR AL-HUSAINI.  
Dari kecil Maulana Malik Ibrahim atau sebutan lainnya Syekh Maghribi atau Kakek Bantal adalah anak yang cerdas, ali, berwatak mulya dan tabah meskipun usianya masih muda akan tetapi beliau sangat bijaksana dan mempunyai pandangan dan pemikirtan yang jauh kedepan.
Pada abad XIII Masehi atau 801 Hijriyah oleh ayahnya beliau ditugaskan untuk menjalankan da’wah islam menuju ke Asia Tenggara. Maka berangkatlah dengan perahu layar dengan membawa barang dagangan dan diikuti oleh kawan-kawannya melintasi samudra luas dengan deburan ombak yang luar biasa besarnya akan tetapi beliau tabah dan bertawakal kepada alloh, dan akhirnya sampailah Maulana Malik Ibrahim di pelabuhan Gresik  dimana pelabuhan Gresik adalah salah satu pelabuhan besar kala itu di Asia Tenggara dan salah satu Bandar Kerajaan Majapahit.
Setelah tiba di Gresik beliau dan kawan – kawannya  memilih sebuah desa di luar kota yaitu Desa “ LERAN “  Kecamatan Manyar ,kira-kira 9 KM sebelah barat kota Gresik. Maka di Desa itulah beliau memulai menjalankan da’wah islamnya.
Aktivitas pertama yang dilakukannya saat itu adalah berdagang dengan cara membuka warung yang menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Disamping itu pula Maulana Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis, dan aktifitas lainnya yaitu mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah – kasta yang disisihkan dalam hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya yaitu mencari tempat dihati masyarakat sekitar yang tengah  dilanda krisis ekonomi dan perang saudara.
Pola pikir yang dikembangkan Maulana Malik Ibrahim didalam berdakwah yaitu dengan cara pendekatan kepada masyarakat, dengan menampilkan budi bahasa yang lemah lembut serta akhlaqul karimah yang tinggi , beliau tidak menentang secara keras agama dan kepercayaan penduduk pribumi serta pula adat istiadat mereka dibiarkan. Akan tetapi beliau selalu menampilkan dan memperlihatkan ketinggian dan keindahan ajaran – ajaran islam sehingga lambat laum penduduk banyak yang tertarik kepadanya dan mengikuti ajaran islam.
Selanjutnya maulana Malik Ibrahim mendirikan pesantren – pesantren untuk mendidik para pengikutnya agar aqidah dan keimanan mereka kuat serta untuk menggembleng calon muballigh – muballigh / juru dakwah yang nantinya ikut pula membantu mensyiarkan agama islam
Adapun Silsilah Nasab beliau yang lengkap adalah : MAULANA MALIK IBRAHIM bin BAROKAT ZAINUL ALAM bin DJAMALUDIN AKBAR AL-HUSAINI – AHMAD SYAH DJALAL – ABDULLAH KHAN – ABDUL MALIK – ALWI – MUHAMMAD SAHIBUL MARBAT – ALI KHOLIP – GASAM – ALWI MUHAMMAD – ALWI – UBAIDILLAH – AHMAD ALMUHAJIR – ISA – MUHAMMAD – ALI ALURAIDI – DJA’FAR ASSHODIQ – MUHAMMAD ALBAGIR – ALI ZAINAL ABIDIN – ALI IMAM HUSEIN – FATIMATUZZAHRO – ROSULULLOH SAW.
Maulana Malik Ibrahim Wafat pada hari Senin tanggal 12 Robiul Awal 822 H atau 1419 Masehi. Dan Makamnya berada di Kampung Gapuro Gresik Jawa Timur.   ( WALLOHU A’LAM )

2.  RADEN RAHMATULLOH ( Sunan Ampel )

Raden Rahmat adalah nama kecil dari Sunan Ampel , lahir di Champa Kamboja pada tahun 1401 M putra dari Syekh Ibrahim Asmorokondi dan adiknya Maulana Ishaq keduanya adalah putra dari Syekh Jumadil Kubro yang  berasal dari negeri Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah.
Pada awalnya Syekh Jumadil Kibro dan kedua anaknya Syekh Ibrahim asmorokondi dan Maulana Ishaq datang ke Pulau Jawa, namun setelah itu mereka berpisah Syekh Ibrahim asmorokondi ke Champa, Vietnam Selatan , Maulana Ishaq ke Samudra Pasai dan Sayekh  Jumadil Kubro  tetap di Pulau Jawa.
Syekh Ibrahim asmorokondi berhasil mengislamkan kerajaan Champa dan akhirnya dijodohkan dengan putri Champa, maka lahirlah Raden Rahmat atau sunan Ampel, setelah itu Syekh Asmorokondi hijrah ke Pulau Jawa sekitar tahun 1443 M untuk bertemu dengan bibinya yang bernama Dwarawati yang juga seorang putri dari kerajaan Champa yang telah menikah dengan Raja Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya.
Nama ampel diambil dari tempat dimana dia tinggal dan berdakwah yaitu Ampel Denta atau Ampel bagian dari wilayah Wonokromo Surabaya sekarang.

Di Ampel Denta yang mulanya masih berawa, adalah sebidang tanah yang dianugerahi oleh Raja Majapahit, ia membangun sebuah sekolah dan asrama untuk mengembangkan pendidikan pondok pesantren  berdakwah dan medidik santri-santrinya agar dapat meneruskan perjuangan mensyiarkan ajaran islam dan pesantren menjadi pusat pendidikan yang sangat berpengaruh di Nusantara dan bahkan luar negeri. Di antara santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para siswa kemudian mendistribusikan untuk berkhotbah ke setiap sudut Jawa dan Madura.
Sunan Ampel merangkul sekolah fiqih Hanafi. Namun dalam pola pengajaran kepada  santrinya, ia hanya memberikan instruksi sederhana yang menekankan penanaman iman dan ibadah. Dia adalah orang yang memperkenalkan istilah "Mo Limo" (moh main, moh Ngombe, moh maling, moh madat, moh Madon). Yaitu perintah  untuk "tidak berjudi, tidak minum, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina."
Sunan Ampel menikah dengan Nyi Ageng Manila, putri seorang adipati Tuban yang bernama Arya Teja, mereka di karuniai 4 (empat) orang anak yaitu : Putri Nyai Ageng maloka, Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syekh Syarifudin/ Raden Kosim ( Sunan Drajad ) dan Syarifah ibu dari Raden Ja’far Shodik ( Sunan Kudus )
Pada tahun 1479 M Sunan Ampel mendirikan Masjid Demak dan diperkirakan meninggal  pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel Surabaya, Jawa timur. (WALLOHU A’LAM)


3.  MAULANA ‘AINUL YAQIN ( Sunan Giri )

Nama kecil Raden Paku, dan memiliki pula beberapa nama panggilan seperti Muhammad Ainul Yaqin, Prabu Sapmata, Sultan Abdul Faqih, dan Joko Samudro.
 Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ayahnya adalah Maulana Ishak seorang muballigh dari Asia Tengah dengan Dewi Sekardadu putri dari Menak Sembuyu penguasa wilayaha Blambangan pada masa – masa akhir Majapahit. Akan tetapi kelahiran raden Paku dianggap telah membawa sial, dan membawa kutukan berupa wabah penyakit di wilayah tersebut maka Dewi Sekardadu dipaksa untuk membuang bayinya, dan di buanglah Raden Paku  ke laut.
Kemudian bayi tersebut ditemukan oleh sekelompok awak kapal (pelaut) dan dibawa ke Gresik. Di sana ia di asuh oleh seorang saudagar perempuan yang kaya raya pemilik kapal yaitu Nyai Gede Pinatih, karena bayi tersebut ditemukan di laut maka di beri nama Joko Samudro.
Setelah cukup dewasa Joko Samudro dibawa ibunya ke Surabaya untuk  belajar agama islam  di Pesantren Sunan Ampel , setelah tidak berapa lama belajar agama islam di Ampel, maka Sunan Ampel mengetahui tenatang identitas dirinya , maka Sunan Ampel mengirim Joko samudro untuk mendalami ajaran islam di Pasai, maka di terima oleh Maulana Ishaq yang tak lain adalah ayah Joko Samudro, disinilah Joko Samudro mengetahui asal muasal dan alasan mengapa dulu ia di buang ke laut.
Setelah punya cukup ilmu, ia kembali lagi ke jawa dan membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik dan menurut bahasa jawa “Bukit” berarti Giri , maka ia di sebut Sunan Giri.
Pesantren Sunan Giri tidak hanya digunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, tetapi juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit, karena merasa khawatir akan memicu pemberontakan, maka Sunan Giri diberikan  keleluasaan untuk mengatur pemerintah. Lalu Pesantren kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton.
Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, pada saat itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal ini tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Dia juga diakui sebagai seorang mufti, pemimpin agama tertinggi.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah satu penggantinya, Pangeran adalah Singosari, dikenal sebagai yang paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.
Para Santri Pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, untuk Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabat, adalah seorang murid Sunan Giri dari Minangkabau.
Dalam agama, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas didalam  ilmu yurisprudensi. Orang juga menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Dia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak-anak seperti Jelungan, berjamur, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung
Menurut  Mbah H. Abdul Jalil Juru Kuncen Makam Sunan Giri, peninggalan Kanjeng Sunan Giri diantaranya :
1.      Masjid jami’ Ainul Yaqin yang berlokasi di Desa Sidomukti.
2.      Pulo Pancikan ( Petilasan) Kanjeng Sunan Giri , lokasi di Kec. Gresik.
3.      Petilasan tempat kanjeng Sunan Giri memberikan pengarahan kepada perangkat pemerintah, lokasi di Desa Sidomukti.
4.      Petilasan Paseban/ Tempat sidang Pemerintaha Kanjeng Sunan Giri , Lokasi di Desa Sidomukti.
5.      PetilasanKolam Wudhu Masjid Giri Kedaton , Lokasi desa Sidomukti.
6.      Kolam wudhu Keluarga kanjeng sunan Giri.
7.      Telogo Pegat, lOkasi Desa Sidomukti.
8.      Batu Giwang, tempat sholat sunan Giri.
9.      Trap Undak-undakan menuju Masjid dan Pondok Pesantren.
10.  Telogo Pati, Lokasi di Desa Sidomukti.
11.  Petilasan pertapaan Kanjeng Sunan Giri ( Gunung Batang) lokasi di Desa Gulomantung.
12.  Telogo Sumber , Lokasi di Desa Kembangan.
13.  Makam Kanjeng Sunan Giri beserta keluarga dan saudara-saudaranya yang terletak di Desa Giri, Kebomas, Gresik. (WALLOHU A’LAM)


4.  MAULANA MAKDUM IBRAHIM ( Sunan Bonang )

Dia adalah putra Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Raden Makdum nama depannya adalah Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang wanita bernama Nyi Ageng Manila, putri adipati di Tuban.
Sunan Bonang belajar agama islam dari ayahnya di Ampel Denta setelah cukup Dewasa ia berkelana untuk berdakwah diberbagai pelosok pulau jawa, awalnya beliau berdakwah di kediri yang saat itu mayoritas masyarakatnya beragama hindu dan disana beliau mendirikan Masjid Sangkal Daha. Lalu menetap diBonang sebuah Desa kecil di daerah Lasem Jawa Tengah dan di Desa itu beliau mendirikan tempat Pasujudan sekaligus pesantren yang saat ini dikenal dengan Watu Layar.
Kedudukannya  sebagai imam resmi pertama  di Kasultanan Demak dan Panglima tertinggi tidak menjadikannya sombong dan tinggi hati, beliu tetap rendah hati, aris dan bijaksana dan terus melanjutkan dakwahnya berkelana ke daerah – daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura dan Pulau Bawean.
Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fiqih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunah bergaya tasawwuf . Ia menguasai ilmu Fiqih, Ushulludin, tasawwuf, seni sastra dan arsitektur. Ajaran Sunan Bonang  berintikan pada Filsafat Cinta (“isyq) yang cenderung sama dengan ajaran Jalaludin Arrumi. Menurut Sunan Bonang Cinta sama dengan Iman, Pengetahuan Intuitif (Makrifat) dan Kepatuhan Kepada Alloh SWT. Cinta adalah kecendrungan yang kuat kepada yang Satu, yaitu yang maha Indah, dalam pengertian ini seseorang yang mencintai tidak memberi tempat pada yang selain DIA (Alloh) ini terkandung didalam kalimat La ila haillalloh. Keuntungan dari cinta seperti ini adalah pengenalan yang mendalam (Makrifat) tentang yang Satu dan perasaan Haqqul Yaqin ( Pasti) tentang kebenaran dan keberadaan-Nya, dengan demikian maka segala gerak gerik hati dan perbuata kita akan senantiasa di awasi oleh Nya sehingga kita selalu ingat / Eling serta waspada.
 Dan ajaran ini sering disampaikan melalui media kesenian yang disukai masyarakat, berjuang  bersama murid kesayangannya Sunan kalijaga dan telah melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil ( Peristilahan ) diantaranya yaitu Suluk Wijil.
Sunan Bonang juga merubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika hindu dengan memberi nuansa baru dengan kreasi gamelan jawa seperti sekarang dengan menambahkan instrumen  bonang beliau juga piawai memainkan wayang dan dapat mempengaruhi penontonnya. Kegemarannya menggubah lakon – lakon dan memasukan tafsir-tafsir islam.
Kanjeng Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M dan makamnya berada di sebelah barat Masjid Agung Tuban Jawa Timur. walau keberadaan makam kanjeng Sunan Bonang sempat menjadi dua pengakuan yaitu ada yang beranggapan di Pulau Bawean ada pula yang beranggapan di Tuban. Namun para Peziarah banyak yang datang dan berziarah di Tuban. ( WALLOHU A’LAM )

5.  RADEN SYARIFUDIN / RADEN QOSIM ( Sunan Drajat )

Sunan Drajat adalah Putra dari Kanjeng Sunan Ampel, nama kecilnya adalah Raden Syarifudin atau disebut pula Raden Qosim, sejak kecil beliau berguru kepada Sunan Gunung Jati Cirebon, beliau  seorang yang pintar dan cerdas dalam belajar agama islam. Setelah menguasai ilmu agama beliau kemudian menetap di Desa Drajat kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan sebagai pusat dakwahnya sekitar abad XV dan XVI Masehi dan beliau memerintah daerah itu sebagai daerah otonom dari Kerajaan Demak selama 36 tahun.
Sunan Drajat terkenal dengan Sosialnya yang tinggi dan sangat memperhatikan sekali terhadap nasib kaum fakir miskin dan du’afa sehingga pertama kali beliau yang dikerjakan adalah berupaya memberikan kesejahteraan kepada masyarakat terutama kaum fakir miskin dan setelah itu baru beliau mengajarkan agama islam. Semangat yang tinggi dan kerja keras serta kedermawanannya untuk mengurangi angka kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat.
Langkah ini sangat berhasil terutama keberhasilannya dalam menyebarkan agama islam serta pula mensejahterakan kaum fakir miskin maka beliau mendapatkan penghargaan berupa Gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Fattah Sulthan Demak I pada Tahun saka 1442 atau Tahun 1520 Masehi.
Konsep nasehat  yang dijalankan Kanjeng Sunan Drajat didalam mengentaskan kemiskinan dan hidup sosial tertuang dalam Sap Tangga ke Tujuh dari tataran Makam Sunan Drajat yaitu :
1.      Memangun resep teyasing sesomo, Artinya kita harus selalu membuat senang orang lain.
2.      Jeroning suko kudu eling lan waspodo, artinya bahwa didalam kesenangan kita tetap harus ingat dan waspada .
3.      Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah, artinya didalam perjalanan untuk mencapai cita-cita luhur tanpa harus mengenal rintangan.
4.      Meper hardaning pancadriya, artinya kita harus dapat mengendalikan hawa nafsu.
5.      Heneng, hening, henung, artinya dalam suasana diam / hening kita dapat meraih cita-cita yang luhur.
6.      Mulyo guno panca waktu, artinya kebahagiaan lahir bathin akan kita peroleh dengan mengerjakan sholat lima waktu.
7.      Menehono teken marang wong kang wuto, menehono mangan marang wong kang luwe, menehono busono marang wong kang wudo, menehono payung marang wong kang kodanan, Artinya , berilah tongkat kepada orang yang buta, berilah makan kepada orang yang lapar, berilah pakaian kepada orang yang telanjang dan berilah payung kepada orang yang kehujanan, Maksudnya Berilah Ilmu kepada orang yang bodoh agar pandai, berilah kesejahteraan bagi orang miskin, berikanlah ilmu kesusilaaan kepada orang yang tak punya rasa malu, berikanlah perlindungan kepada orang yang sedang menderita.

Sunan Drajat didalam dakwahnya menggunakan konsep dakwah bil-hikmah artinya dengan cara yang sangat bijaksana tanpa ada paksaan sedikitpun, dimana dakwah ini di tempuh melalui 5 (lima) cara yaitu :
1.      Berdakwah melalui pengajian langsung  di musholla atau dimasjid.
2.      Melalui pendidikan dipondok pesantren.
3.      Melalui pemberian Fatwa/ Nasehat/ Wejangan ketika ada masalah.
4.      Melalui kesenian tradisional ( melalui tembang-tembang yang diringi oleh gamelan )
5.      Melalui Ritual adat tradisional, hal ini dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran agama islam.

Menurut naskah Badu Wanar dan naskah Drajat, Sunan Drajat mempunyai istri bernama Dewi Sufiyah putri dari Sunan Gunug Jati , dari perkawinan tersebut di karuniai 3 (tiga) orang anak yaitu , (1) Pangeran Rekyana atau  Pangeran Trenggana  (2) Pangeran Sandi dan (3) Dewi Wuryan.
Namun menurut beberapa naskah yang lain Kanjeng Sunan Drajat disebut-sebut telah menikahi 3 (tiga) orang perempuan yaitu Kemuning, Retnayu Condrosekar putri dari Adipati Kediri Raden Suryadilaga dan Dewi Sufiyah.
Makam Kanjeng Sunan drajat terletak di Desa Drajat Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. ( WALLOHU A’LAM )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar